
Bali, portal nasional – Hujan deras yang terjadi sejak Selasa (9/9) malam menyebabkan sejumlah wilayah di Bali dilanda banjir.
Peristiwa ini disebut sebagai banjir terparah yang dialami Bali dalam satu dekade terakhir.
Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menyebut salah satu faktor pemicu banjir besar kali ini adanya tumpukan sampah yang menyumbat aliran
air.
Hanif juga menyoroti alih fungsi lahan yang berisiko merusak tata ruang alami Bali.

“Saya sudah ingatkan bahwa agar mempertahankan keberadaan lereng dan sawah-sawah jangan digunakan lagi untuk bangunan-bangunan karena mengingat jumlah wisatawan semakin meningkat,” kata Hanif.
“Namun itu tidak boleh kita gegabah. Jadi
landscap-landscap yang ada jangan diganggu lagi oleh keberadaan hotel-hotel, kota-kote, perumahan-perumahan gitu ya. Nah, ini yang saya sudah ingatkan,” jelas Hanif.
Gubernur Bali I Wayan Koster membantah penyebab banjir Bali disebabkan karena alih fungsi lahan. la menyebut alih fungsi lahan terjadi di kawasan kota utara dan tidak memiliki aliran suhu yang sama yang menyebabkan banjir.
“Alih fungsi lahan kan di Badung, di Gianyar. Di Badung kan di daerah-daerah kota utara ini hulunya. Kan jauh. Artinya ini enggak ada dampak ke sana. Bukan di fungsi lahan, ini lintasan sungainya kan enggak ada di Kute,” terang Iwayan.
Sementara itu, BMKG menyatakan banjir di sejumlah wilayah di Bali disebabkan oleh intensitas hujan ekstrem yang terjadi pada selasa lalu.
Indonesia sendiri secara umum masih di masa peralihan di mana harusnya curah
hujan masih dinamis ya, ada yang hujan-hujan yang tidak merata lebih dominan.
Namun kalau dilihat dari faktor
pendukung lainnya yang tadi sudah
disampaikan memang mendukung ee
terjadinya hujan dengan intensitas yang
tinggi di wilayah tersebut pada hari
itu.
Data dari BPBD, total jumlah korban
meninggal akibat banjir di Bali terus
bertambah menjadi 18 orang. PEMPR Bali
memastikan masa tanggap darurat berlaku
hingga 17 September mendatang.

