Jayapura, portal nasional – Finalis Miss Indonesia 2025 asal Papua Pegunungan, Merince Kogoya buka suara terkait keputusan panitia yang mendiskualifikasi dirinya. Merince didiskualifikasi oleh panitia setelah unggahan VIDEO LAMAnya yang memuat dukungan terhadap Israel viral di media sosial.
Terkait tindakan panitia Miss Indonesia ini, Merince merasa diperlakukan tidak adil sejak awal proses seleksi hingga masa karantina berlangsung di Jakarta.
“Sejak awal saya ditunjuk secara khusus untuk mewakili Papua Pegunungan. Namun, berbeda dengan finalis lain, saya tidak menerima buku panduan saat mengikuti audisi,” ujarnya saat memberikan keterangan pers kepada wartawan di Abepura, Kota Jayapura, Papua.
“Saya ikuti audisi benar-benar tanpa arah atau panduan. Saya hanya berjalan dengan pertolongan dan petunjuk Tuhan,” kata dia.
Mahasiswa Universitas Cenderawasih ini juga menyinggung soal perlakuan diskriminatif selama karantina berlangsung
Menurutnya, meski ada rekomendasi dari dokter gizi agar dirinya mendapatkan menu makanan sesuai kebutuhan tubuh, yakni berbasis umbi-umbian, tetapi yang ia terima justru menu yang tidak sesuai.
“Selama dua hari berturut-turut saya hanya diberi makan siang berupa mie, sehingga daya tahan tubuh saya menurun. Tapi karena pertolongan Tuhan, saya bisa tetap bertahan,” ujar Merince.
Tak hanya itu, Merince menyoroti momen penyematan selempang finalis pada 26 Juni 2025. Dari 38 finalis yang hadir, hanya tiga finalis dari wilayah barat dan tengah yang diminta maju ke depan, sedangkan perwakilan dari timur, termasuk dirinya, tidak diberi kesempatan.
“Kami dari timur hanya saling memberi semangat, walau tidak diundang maju,” katanya.
Puncak masalah muncul setelah beredar video dirinya mengibarkan bendera Israel. Tindakan itu memicu kontroversi, hingga akhirnya panitia Miss Indonesia 2025 memutuskan mendiskualifikasi Merince dari ajang tersebut.
Meski begitu, Merince menegaskan, tindakannya bukan bermaksud politis.
Ia menilai keputusan panitia tidak hanya berlebihan, tetapi juga mencerminkan perlakuan diskriminatif yang sudah ia rasakan sejak awal.
Ibu dari Merince, Yurince Lokbere, menuturkan kekecewaannya karena sang anak tidak hanya mengalami ketidakadilan selama masa karantina, tetapi juga sejak awal pendaftaran sebagai finalis Miss Indonesia.
“Sejak awal, anak saya tidak diberikan buku panduan seperti finalis lain. Dia benar-benar masuk audisi tanpa arah, hanya mengandalkan pertolongan Tuhan. Padahal peserta lain menerima buku panduan lengkap,” ujar Yurince.
Pihak keluarga juga menilai, keputusan diskualifikasi itu tidak dilakukan dengan cara terhormat dan tanpa pembelaan yang layak.
“Anak saya dipanggil secara terpisah dan diberi tahu tentang video itu, lalu langsung dikeluarkan. Tidak ada ruang untuk menjelaskan, tidak ada klarifikasi yang adil. Kami merasa ini bentuk diskriminasi,” ucap Yurince.
Ia pun berharap panitia Miss Indonesia memberikan pernyataan maaf dan klarifikasi secara terbuka.
Merince dan keluarga baru menyampaikan klarifikasi saat ini karena perlu berkoordinasi dengan berbagai pihak, termasuk pengiat HAM.
“Saya jumpa pers hari ini untuk pemulihan nama baik saya, karena pasca didiskualifikasi dari Miss Indonesia,” ujarnya.
Merince lahir di Wamena, Papua Pegunungan pada 14 Agustus 2005. Ia menempuh pendidikan di SD Negeri Inpres Hedam Abepura dan melanjutkan ke SMP dan SMA Negeri 3 Jayapura.
Saat ini, Merince tercatat sebagai mahasiswa Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Cenderawasih.
Pihak Founder dan Chairwoman Miss Indonesia 2025 maupun Project Director Miss Indonesia tidak berkenan untuk diwawancarai dan memberikan pernyataan resmi terkait alasan diskualifikasi Merince secara terbuka ke publik.

