
Wahana musik Indonesia (WAMI) yang diduga sebagai “anak emas kemenkumham” melayangkan surat pemberitahuan hingga peringatan kepada Solo ls Solo.
Untuk diketahui, Solo Is Solo adalah sebuah konsep ruang publik dan program Pemberdayaan Masyarakat yang digagas oleh Pemerintah Kota Surakarta, khususnya di Koridor Gatot Subroto (Gatsu), untuk mengembangkan seni jalanan (street art), musik, kuliner, dan urban lifestyle. Acara ini menjadi wadah bagi para seniman dan kreator lokal untuk menampilkan karya dan berinteraksi langsung dengan pengunjung, serta sebagai upaya pemerintah untuk menciptakan ruang publik yang inklusif dan mendukung ekonomi kreatif lokal.
Koordinator Solo Is Solo, Irul Hidayat mengaku bingung saat Wahana Musik Indonesia atau WAMI melayangkan surat pemberitahuan hingga peringatan kepada pihaknya selaku penyelenggara.
Surat tersebut menyebutkan dalam acara yang diselenggarakan bertajuk Solo Bermusik memperdengarkan karya di bawah pengelolaan lembaga manajemen kolektif nasional atau LMKN.
Padahal dalam acara tersebut hanya menampilkan karya band lokal dan ia menduga yang dimaksud memperdengarkan lagu di bawah LMKN
adalah penampilan reguler yang tergadang menampilkan band cover dan ia mendapat surat pemberitahuan pada 19 Februari 2025.
Selanjutnya karena dianggap tidak merespon surat ini, Waami mengirimkan surat peringatan pada 16 Mei 2025. Dan seperti telah diketahui, aturan tarif loyalti tertuang dalam surat keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia tahun 2016 tentang pengesahan royalti untuk pengguna yang melakukan pemanfaatan komersil ciptaan produk terkait musik dan lagu.
Dan di pasal 1 ayat 4, tarif royalti bagi konser musik dengan penjualan tiket dihitung berdasarkan hasil kotor penjualan tiket dikali 2% ditambah dengan tiket yang digratiskan dikali 1%.
Lalu ayat 5 ee tarif royalti bagi konser musik gratis dihitung berdasarkan biaya produksi musik dikali 2%.
Dalam event tersebut pihaknya hanya
mengeluarkan biaya sekitar Rp 500.000 an dan selain itu tidak ada lagu label mayor yang ditampilkan.
Sedangkan untuk band cover yang sering bermain di acara mingguan, ia mengakui sejumlah lagu dimungkinkan terdata dalam LMKN. Meski begitu intensitasnya tidak terlalu sering karena tidak sesuai dengan visi acara reguler mingguan Solo Is Solo.

