“Toet Apam” Cara Masyarakat Aceh Lestarikan “Tulak Bala”

Meulaboh, portal nasional – “Toet Apam” atau membuat cemilan mirip kue serabi adalah sebuah tradisi masyarakat Aceh pada momen sakral. Tradisi ini diadakan setahun sekali pada akhir bulan Safar sebagai persiapan pelaksanaan ritual “Tulak Bala” atau menolak bencana dan penyakit. 

Kegiatan ini disebut juga momen “Rabu Habeh” karena dilakukan pada hari Rabu penghujung bulan Safar (kalender hijriah). Pada tahun ini bertepatan pada hari Rabu 20 Agustus 2025 atau 26 Safar 1447 Hijriah sehingga persiapan dilakukan sehari sebelum kegiatan.

Seperti masyarakat Gampong/Desa Leukeun, Kecamatan Samatiga, Kabupaten Aceh Barat yang sudah turun temurun melaksanakan kegiatan ini. Dari pagi hingga sore, kaum ibu-ibu sibuk mempersiapkan bahan hingga memasaknya sampai terbenam matahari.

Apabila kue serabi dihasilkan dari bentuk cetakan kue dan dibakar dengan api kompor gas. Namun untuk Apam, hanya boleh dengan api kayu bakar dan dituang langsung ke belanga kecil yang langsung membantuknya dan tidak menggunakan cetakan kue.

Masakan cemilan Apam ini juga dilengkapi dengan kuah santan kelapa dengan aroma khas nangka. Proses memasaknyapun secara bersama-sama, layaknya sebuah acara hajatan orang sekampung.

“Bahan kue Apam ini sederhana, pakai tepung beras. Hanya proses penyajian atau memasaknya tidak sama dengan kue serabi,” ujar Irawati, salah seorang warga saat Toet Apam, Selasa (19/8/2025) di Halaman Kantor Desa Leukeun.

Meskipun ada Toet Apam, namun beberapa kalangan ibu-ibu juga ada yang membuat kue serabi menggunakan bahan yang sama, namun proses masakannya yang berbeda dan kanji rumbi. Tujuannya agar generasi yang hadir bisa mengenal bagaimana masakan orang tua mereka terdahulu dan yang saat ini.

Setelah Apam selesai matang, kue ini dibungkus dan disiapkan untuk santapan jemaah setelah sholat magrib. Kue apam ini sebagai menu khas malam acara tulak bala.